Sabtu, 20 Agustus 2011

Sebuah Cerpen bertema Kesehatan

Judul : Jerawat Hidung Pak Presiden
” Entahlah. Yang jelas jerawat di hidung Pak Presiden itu sekarang membengkak, mengakar!” Keluh Dr Sing, Dokter kepresidenan Republik Meneketehe. Dokter lulusan Beukimolor University ini dari ke hari hanya bisa melenguh tepatnya angkat tangan dengan jerawat di hidung Pak Presiden.

” Wah! Semakin mancung dong!” Ujar Menteri Kesehatan Republik Meneketehe.

” Bukan mancung, tapi bundar gituu….!” lanjut Dr Sing. ” Seperti Gareng dalam cerita pewayangan itu lho!”

” Pengobatan macam apa yang bisa menyembuhkan jerawat Pak Presiden, Dok!”

” Ya..harus dioperasi, harus dibuang akar jerawatnya. Ya..resikonya Pak presiden harus kehilangan hidungnya..!”

” weleh…weleh….harus?”

” Ya iya lahhhhh…..!”

” Ada cara lain?”

” Belum ditemukan, pak!”

” Ya sudah!” menteri Kesehatan mengibaskan tangannya, menepis angin. ” Tapi..ini rahasia kita berdua lho, jangan sampai orang lain tahu menahu masalah ini, apalagi para wartawan….kacau kita-kita, mau di bawa ke mana Republik ini jika presidennya tanpa hidung!”

Maka, amputasi pun dilakukan, hanya mereka berdua yang tahu. Satu sampai dua bulan Pak presiden telah sembuh, tapi ia menangis tersedak-sedak, harus kehilangan hidungnya. Sebetulnya, Rakyat Republik meneketehe jenuh dengan ketidakhadiran presiden idola mereka. Tiga bulan mereka tidak mendengar pidato dari Pak Presiden, mungkin semacam rindu berat!

Diumumkanlah, bahwa presiden telah sembuh dari sakitnya. Siang ini beliau akan memberikan pidato di salah satu stasiun televisi milik negara. Live report! wartawan diundang, semua petinggi negara harus hadir. Rakyat harus menyimak!

Pak Presiden naik podium! Orang-orang degdegplas! Apatah lagi Dokter Sing dan Menteri Kesehatan. Orang bertanya-tanya mungkin, kok kepala pak presiden ditutup dengan kain hitam, diberi bolong di matanya, seperti Ninja.

” Ehmm….!” Semua membisu, bahkan dingin, keringat menitik di kening Dokter Sing!” ‘a yatku….’ang ‘a ya intai…..” Tak terdengar jelas apa yang diucapkan oleh Pak Presiden. Riuhlah gemuruh gerakan orang-orang, para wartawan menjentik-jentikkan, bahkan memasang telinga mereka sejelas-jelasnya, alat rekaman sudah diabaikan. Hingga angin yang bertiup kencang itu menyibak kain penutup kepala pak Presiden.

” Waaaaaaaaa…!” orang-orang menutup mata.

” Lha dalah!” Semua Menteri Kabinet Republik Meneketehe membungkam mulut mereka. ada juga yang tertawa, terisak…lucu mungkin.

Nasi sudah menjadi bubur. Maka pak Presiden menulis pesan singkat kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan. Aturan ya semacam INPRES pun diberlakukan.

1. Semua petinggi Republik Meneketehe harus diamputasi hidungnya.

2. Semua warga negara yang mencintai tanah airnya wajib menyerahkan / mempersembahkan hidung mereka demi kestabilan Negara.

3. Setiap bayi yang baru lahir wajib disunat hidugnnya.

Hari ke hari, semakin banyaklah orang yang tidak memiliki hidung di Republik Meneketehe ini. Ramai dan riuh orang berbicaram telinga harus benar-benar dipasang secara tepat.

” ‘ita…’iak ‘o leh ‘embu’a ‘iri….’epublik ‘ini…’a us te’ioai…!” Teriak pak Presiden berapi-api. Maka..negara ini pun mengisolasikan diri, tidak ada lagi hubungan bilateral, multilateral, dan keluar dari badan dunia,PBB.

Satu dekade, dua dekade, sampai pada masa yang tidak tentu, semua warga Republik Meneketehe telah tidak memiliki hidung.

Ada kabar badan dunia khususnya badan kesehatan dunia akan melakukan penelitian di negara ini. Pak Presiden baru pun menerima dengan lapang dada, dada lapang. Instruksi Pak Presiden adalah ..seluruh warga harus menyambut tamu istimewa itu dengan meriah. Karpet merah digelar sepanjang jalan yang akan dilalui oleh tamu istimewa. Bandara ramai sesak, orang-orang ingin melihat tamu istimewa dari dekat.

Dan…dari dalam kapal keluarlah tamu istimewa itu, tampannya bukan main. Namun..tiba-tiba orang-orang di bandara terkekeh-kekeh menahan tawa, semua warga negara yang menonton televisi pun terbahak memegang perut mereka sambil jumpalitan.

berkerut bukan main kening tamu istimewa itu.

” Ada apa?” Bisiknya pada menteri Luar Negeri Republik Meneketehe. ” Kok menertawai kita!?”

” ‘e ‘e ka e’a'sa ‘u cu’e ‘an iung ,uan!” Katanya sambil menunjuk hidung tamu istimewa itu.

Bibir tamu istimewa membuat lengkungan heran. Kemudian memegang hidungnya yang mancung itu. Memang…orang-orang di bandara merasa lucu melihat tamu istimewa itu memiliki hidung sepanjang itu…


keyword: cerpen kesehatan, cerpen bertema

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar